Monday, February 7, 2011

Manusia yang (maaf) Hina Dina...

Terinspirasi dari sosok manusia yang tidak pantas disebut sebagai (maaf) manusia.
Manusia yang derajatnya lebih rendah dari hewan... Manusia yang tidak bisa menempatkan posisinya dalam kehidupan dengan sesama umat manusia. Manusia yang mungkin lebih mulia daari seorang (maaf) Pengemis...

Hari ini adalah Senin, tanggal 7 Februari 2011. Pagi ini jam 10.00 WIM (Waktu Indonesia Momon) *halahh* gue pergi ke Kost-an temen gue. Dia komti kelas gue. Gue berencana minjem catetan, karena sekarang ini gue emang lagi dalam masa-masa (sebut saja Galau) (sekali lagi maaf, saya tidak ingin menyebutkan kata ujian dalam blok saya, karena itu bisa menuntut saya untuk belajar, bukan menulis blog).

Misi gue selesai. Selanjutnya, hengkang dari kost-an dia, gue berencana balik ke Binus Square, kediaman gue selama gue masih menetap di kota miskin kasih sayang ini. Dari Kampus Syahdan, gue menjajaki angkot M11 menuju Meruya. Melihat sebuah Rumah Makan Prasmanan yang notabene bersemboyan 'Murah, Enak, Prasmana, dan Puas', tanpa basi-basi lagi gue brenti, dan masuk ke Rumah makan itu.

OK, ini emang bukan pertama kalinya gue makan disini, Lebih dari sekali gue memanjakan lidah ditempat ini. Dan gue enjoy-enjoy aja sama pelayanan disini. Sekalipun belum pernah gue kedapatan konsumen yang marah-marah ditempat ini.

Dan begitu gue duduk, ready to eat, tiba-tiba..... *jengjeeengggg*
Ada Bapak-bapak berkebangsaan C*na (sebut saja Tokai, 50) datang beserta Anak perempuannya (LingLung,15) dan si kecil dongo (TongTong, 7). Tokai dan Linglung baris di meja menu, mengambil piring dan siap untuk menyomot makan prasmanan itu.

Tahukan Anda?
Tanpa basa-basi Tokai dan Linglung ngambil Nasi dan lauk yang jumlahnya sama sekali gak lazim dimakan sama manusia pada umumnya. (Gila aja, sama makanan kuli aja jaauuhh lebih banyak makanan dia, guys!)
Kebodohannya mereka berdua, selesai mengambil makanan, dia langsung mapan dimeja, TANPA MENYAMBAR MEJA KASIR untuk proses penghitungan lauk (maklum ini kan sistem prasmanan).

Jelas saja Sang Pelayan Toko datang menyambangi meja si Tokai, Linglung, dan TongTong.


Cashier : Maaf, Pak. Boleh tau menu apa saja yang Bapak pesan?
Dengan senyum raham pelayan itu menegornya.


Tapi apa reaksinya?
Tokai yang tak terima ditegor oleh seekor pelayan, dia berontak.
Marah-marah dan meneriaki sang Pelayan.

Tokai : Apa kamu tidak lihat saya sedang makan?
Cashier : Maaf, Pak. Saya lihat. Tapi bapak belum bayar, dan belum melaporkan menu pesanan Bapak ke meja kasir.. Silahkan ke kasir sebentar, Pak.
Tokai : Lihat saja, apa yang saya pesan. Kan kamu bisa mengira-ngira berapa totalnya dari sini.
Cashier : Maaf, Pak. Itu banyak sekali. Silahkan ke meja kasir saja pak.
Tokai : KAMU PIKIR SAYA MENYELIPKAN MAKANAN DIANTARA LAUK-LAUK SAYA INI??
Cashier : B..Bukan begitu, Pak. Maaf.

Pelayan itupun berlalu. Dan dia kembali ke meja kasir karna antrian kasir sudah cukup panjang.
Si Tokai mengira kasusnya itu akan dibiarkan saja oleh pihak Rumah Makan itu. Amanlah dia. Menyuruh Tongtong untuk mengambil piring kosong 2 helai di samping baskom nasi.


*jengjengjeeengggggg*


Apakah yang terjadi???
Si Tokai memilah milah piring makanannya dan piring si Linglung. Dia bergegas mengeluarkan lauk yag disimpan dibalik timbunan mie yang menggunung dipiringnya itu. Timbul pemikiran licik pada otak sang Tokai. Mengambil menu banyak dalam 2 porsi, untuk dimakan dalam 4 porsi. Tak lama kemudian sang istri datang menghampiri, (sebut saja Kuchai, 45).


Melihat jumlah piring yang tak sepadan dengan jumlah pesanan yang akan dibayar,
sang pelayan pun kembali menghampiri meja si Tokai.

Cashier : Maaf, Pak. Jadi total yang anda makan semua ada berapa porsi, dan mohon disebutkan apa saja menunya.
Tokai : Kamu ini tidak lihat apa? Tadi kan sudah saya suruh hitung!
Cashier : Kan saya juga sudah bilang, penhitungan hanya akan dilakukan dimeja kasir, Pak. Itu prosedurnya.
Tokai : Hei, kamu tau kan ini RUMAH MAKAN PRASMANAN. Tau kan, orang kalo prasmanan itu pengennya  buru-buru makan? Makanya tadi saya buru-buru naro dimeja makan. Ngerti gak sih kamu ini!
Cashier : Iya pak saya minta maaf. Saya disini cuman menjalankan tugas dan perintah dari atasan saya.
Tokai : Karena kamu sudah mengacak-acak makanan saya, jangan harap saya akan membayar semuanya.
Cashier : Maksit Bapak?
Tokai : Saya cuma makan 2 porsi. Isinya nasi, mie goreng, dan fuyunghai. Begitu juga anak saya. Kalau masih protes saja, saya bilang sama bos kamu, dan jangan harap saya mau bayar.
Cashier : Maaf, pak. Prosedur kami memang seperti itu. Maaf kalo mengganggu kenyamanan Bapak. Tapi beginilah prosedur prasmanan, harus bayar dimuka sebelum makan.
Tokai : KAMU INI NGERTI GAK SIH KALAU KAMU ITU SALAH??\
Cashier : iya, Pak.
Tokai : MASIH MAU NGEYEL? MASIH MAU NGOTOT?
Cashier : Tidak Pak.
Tokai : Yasudah. Saya kecewa. Yuk kita pergi dari sini.
==============================================


GOOKIIIILLL... Semua customer didalem langsung noleh ke meja dia. Memicingkan mata, memandang si Tokai sebelah mata. Dan mungkin mencibir dalam hati masing-masing. Tau gak lo, dia langsung pergi gitu aja! GA BAYARRR!! Gila ga tuh orang?? Padahal itu tempat makan paling bersih paling murah yang gue tau. Tapi buat makan gitu aja dia ga mau ngeluarin duit sama sekali. Gayanya aja sok Bussinesman, pake kemeja panjang, celana bahan, sepatu phantouphle, kacamata tipis.. Beeuuhh... Tapi kelakuannya ga tau adab! Kalo dia bilang dia ga kuat beli makan, pasti gue yakin ko, pelayan-pelayan itu rela ngasih makan buat dia. Ga perlu pake acara ngrampok segala kaya gitu. Ga tau malu banget..


Jaman sekarang emang apa-apa serba mahal. Butuh perjuangan untuk mendapatkan sesuap nasi. Tapi bukan perjuangan kaya itu yang Allah pengenin... Manusia diciptain itu selain dituntut buat doa dan usaha, dia dituntut juga buat menghargai sesama makhluk Allah. Ga peduli itu setan, hewan, tumbuhan, manusia, kaya, miskin, pejabat, pelayan, semuanya sama dimata Allah.


Lo yang baru dikasih kepuasan duniawi gitu aja jangan langsung girang. Bukan untuk itu lo diciptain menghirup udara dibumi ini.


Semoga lo bisa ngresep inti hikmah dari pengalaman gue tadi. 

No comments:

Post a Comment